Suku Bajo - Sea Nomands


Bismillahirrahmaanirrahiiim
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan pemanfaatan pantainya yang beragam. Untuk dapat memanfaatkan wilayah pesisir dengan lebih bijaksana maka perlu digali pemahaman tentang laut dan pesisir dari suku laut yaitu masyarakat Suku Bajo.

Suku Bajo yang mendapat sebutan sea nomads atau manusia perahu karena sejak zaman dahulu mereka adalah petualang laut sejati yang hidup sepenuhnya di atas perahu sederhana. Mereka berlayar berpindah-pindah dari wilayah perairan yang satu dan lainnya. Perahu adalah rumah sekaligus sarana mereka mencari ikan di luas lautan yang ibaratnya adalah ladang bagi mereka. Ikan-ikan yang mereka tangkap akan dijual kepada penduduk di sekitar pesisir pantai atau pulau. Inilah asal mula mereka disebut sebagai manusia perahu atau sea nomads. Kini mereka banyak bermukim di pulau-pulau sekitar Pulau Sulawesi, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Persebaran suku Bajo di beberapa daerah di Nusantara tentunya terjadi karena cara hidup mereka yang berpindah-pindah dan berlayar dengan perahu.

Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Mandar. Saat ini, Suku Bajau menyebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia (terutama Indonesia Timur), bahkan sampai ke Madagaskar. Kebanyakan Suku Bajau yang menyebar mulai tinggal menetap dan berbaur dengan suku-suku lain.


Wilayah yang terdapat suku Bajau di Indonesia, antara lain:

1.    Kalimantan Timur (Berau, Bontang, dan lain-lain)
2.    Kalimantan Selatan (Kota Baru) disebut orang Bajau Rampa Kapis
3.    Sulawesi Selatan (Selayar)
4.    Sulawesi Tenggara
5.    Nusa Tenggara Barat
6.    Nusa Tenggara Timur (Pulau boleng, Seraya, Longos, Komodo dan sekitarnya)
7.    Sapeken, Sumenep
8.    Wilayah Indonesia timur lainnya


Namun Bajau yang terdapat di kepulauan Maratua telah melekat dengan budaya Indonesia. Sehingga telah jauh berbeda dengan bajau Sulu, Filipina. Maksudnya disini, berbeda secara bahasa, logat/intonasi dalam berbicara, dan keyakinan masyarakan setempat. Bajau Maratua juga memiliki kehidupan yang dapat dikatakan layak. Bahkan memiliki pekerjaan dan pendidikan yang tinggi. Masyarakat Suku bajau Maratua mayoritas menganut agama islam. Tidak ada yang menganut kepercayaan animisme maupun ateis. Suku bajau Maratua juga tinggal atau bermukim di atas tanah dengan membuat rumah-rumah sederhana yang layak ditempati, berbeda dengan bajau laut Sulu, Filipina yang tinggal di atas permukaan laut dan beraktivitas di dalam perahu sehingga disebut juga sebagai "Pala'U" atau dalam bahasa indonesia artinya perahu. Bajau Maratua ini juga mengenal tulisan dan bacaan sehingga tak heran banyak dari anak-anak suku bajau menganyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bisa dikatakan kalau bajau Maratua ini adalah Bajau modern karena kehidupan yang telah modern, memiliki keyakinan (Non Animisme, Non Ateis), Menganyam pendidikan, bermukim di atas tanah dan bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya.



Terima Kasih Karena Sudah Mau Membaca Artikel ini
Mohon Maaf Apabila Ada Hal Yang Di Cari Tidak Ditemukan
---TERIMA KASIH---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Farmaceutical & Nutraceutical Hasil Perikanan