Farmaceutical & Nutraceutical Hasil Perikanan


MAKALAH
FARMASEUTIKAL DAN NUTRASEUTIKAL HASIL PERIKANAN
“Isolasi dan Ekstraksi Senyawa Bioaktif dari Makroalga (Rumput Laut) dan Pemanfaatannya dalam Bidang Farmaseutikal, Nutraseutikal dan Kosmetikal”
 
OLEH:
KELOMPOK IV
FAJRIN ASSIDIK                                            (Q1B1 16 005)
RASITA BR GINTING MUNTHE                (Q1B1 16 020)
AZIZUL CITRA ARTATI                               (Q1B1 16 039)
ERFIANA                                                          (Q1B1 16 044)
MUHAMMAD IQBAL                                     (Q1B1 16 047)
UCOK CANDRA PUTRA                               (Q1B1 16 066)
SHALAWATUN AMALIAH FATIMAH                  (Q1B1 16 049)
BOBI NURJANDI                                             (Q1B1 16 054)
NOVI NUGRAH LESTARI                            (Q1B1 16 080)
RIKSANDI                                                         (Q1B1 16 086)
FAZIRUL MAULANA                                    (Q1B1 16 095)
FENDI                                                                (Q1B1 16 096)
FITRIANI                                                          (Q1B1 16 097)
HABIBUR ALIM                                              (Q1B1 16 098)
RIZKI MILA SANJAYA                                 (Q1B1 16 034)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019




I.         PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Indonesia memiliki perairan dengan biodiversitas yang tinggi, sehingga kaya akan berbagai jenis hasil laut. Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan yang tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia sebagai komoditi ekspor yang potensial untuk dikembangkan. Total produksi rumput laut nasional saat ini telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Produksi rumput laut nasional pada tahun 2014 mencapai 10,2 juta ton atau meningkat lebih dari tiga kali lipat. Produksi rumput laut pada tahun 2010 hanya berkisar diangka 3,9 juta ton (KKP 2014).
 Alga laut yang tumbuh secara liar di pinggiran perairan merupakan salah satu tumbuhan laut yang berpotensi penting untuk industri farmasitika Indonesia. Dengan siklus hidup yang relatif singkat, alga-alga laut tersebut dapat diperoleh secara mudah di alam. Alga laut atau gangang laut atau rumput laut (seaweed), umumnya bersifat sesil atau menetap, dan secara morfologi tidak memiliki perbedaan susunan kerangka antara holdfast, stipe, dan blade sehingga digolongkan ke dalam tumbuhan berthallus (Lobban dan Harrison, 1994). Keunikan tumbuhan ini, dimana klasifikasinya masih didasarkan atas pigmen yang dikandungnya yaitu alga merah (Rhodophyta), alga cokelat (Phaeophyta) dan alga hijau (Chlorophyta) (Sze, 1993).
Beberapa jenis rumput laut merupakan sumber potensial pangan fungsional yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan karena mengan-dung senyawa kimia yang mempunyai aktivitas biologis (zat bioaktif). Senyawa aktif biologis itu merupakan metabolit sekunder yang meliputi alkaloid, flavonoid, terpenoid, tannin, dan saponin. Kandungan senyawa metabolit sekunder dalam rumput laut dapat diketahui dengan suatu metode pendekatan yang dapat memberikan informasi adanya senyawa metabolit sekunder.
Metabolit sekunder adalah senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu sama yang lainnya. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan.
B.        Tujuan
Adapun tujuan pada makalah ini yaitu untuk mengetahui cara mengisolasi dan mengekstraksi senyawa bioaktif dari makroalga dan pemanfaatannya dalam bidang farmaseutikal, neurasetikal, dan kosmetik.
C.      Manfaat
Adapun manfaat pada makalah ini yaitu agar mahasiswa mengetahui cara mengisolasi dan mengekstraksi senyawa bioaktif dari makroalga dan pemanfaatannya dalam bidang farmaseutikal, neurasetikal, dan kosmetik.



II.      PEMBAHASAN
A.      Makroalga
Rumput laut atau makroalga laut merupakan sumber terbaharukan yang potensial dalam lingkungan laut. Sekitar 6000 spesies rumput laut telah diidentifikasi dan dikelompokkan sebagai alga hijau (Chlorophyta), alga coklat (Phaeophyta) dan alga merah (Rhodophyta). Produksi rumput laut secara global di dunia pada tahun 2004 lebih dari 15 juta ton, yaitu 1,3 juta ton panen bebas dan 14,8 juta ton hasil aquakultur (FAO, 2007).
Rumput laut sebagai bahan baku diet telah diketahui sejak dahulu di daerah oriental karena bahan tersebut bergizi dan merupakan sumber vitamin, dietary fibre, mineral dan protein yang sangat baik. Produk hidrokoloid yang dihasilkan rumput laut juga telah digunakan sebagai bahan kosmetik, farmasi dan industri pangan (Padayatty et al., 2003). Makroalga memiliki kandungan nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, serat, lemak, mineral dan berbagai vitamin.
Rumput laut juga digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit. Penelitian telah banyak dilakukan untuk mengkaji senyawa bioaktif berbagai jenis rumput laut di antaranya rumput laut hijau sebagai antibakteri (Mishra et al. 2016), rumput laut merah sebagai antikanker (Duraikannu et al. 2014) dan rumput laut coklat sebagai antiinflamasi dan antidiabetes (Ji-Hyun et al. 2016). Komponen bioaktif yang dihasilkan rumput laut di antaranya termasuk dalam kelompok polisakarida, lemak dan asam lemak, pigmen, serta metabolit sekunder seperti fenol, alkaloid, terpen, dan lektin (Perez et al. 2016). Pereira dan Gama (2008) melaporkan lebih dari 300 metabolit sekunder telah diidentifikasi dari alga hijau diantaranya termasuk bangsa Bryopsidales. Penelitian yang mengkaji potensi senyawa bioaktif rumput laut dari suku Halimedaceae di antaranya adalah antimikroba dari Halimeda macroloba (Dzeha et al. 2003) dan Halimeda opuntia (Mishra et al. 2016).
B.       Jenis-Jenis Makroalga (Rumput Laut)
1.        Sargassum sp. (Gazali et al., 2017)
Sargassum sp. merupakan alga yang memiliki bentuk thallus silindris atau gepeng dengan warna thallus coklat, bentuk daun melebar, lonjong, seperti pedang dengan percabangan yang rimbun dan juga memiliki gelembung yang berisi udara yang disebut dengan air bladder. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tumbuhan obat adalah rumput laut cokelat jenis Sargassum sp (Harlis, 2011).
 








Gambar 1. Sargassum sp.
(Sumber: http://handlinefishing.com)
Makroalga laut Sargassum sp merupakan salah satu jenis makroalga yang berkembang pesat dan banyak terdapat di wilayah pesisir Barat Selatan (Barsela) Aceh dan di eksplorasi sebagai agen antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang menyumbangkan elektron yang dikandungnya kepada radikal bebas (Suhartono, 2002). Antioksidan alami dapat diperoleh dari tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi flora yang luas dan paling banyak di dunia. Tumbuh-tumbuhan mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid dan fenolik yang berguna sebagai penangkap radikal bebas (Cos et al., 2001). Duenas et al., (2009) menyatakan bahwa senyawa ksanton serta turunan flavonoid (kuersetin dan katekin) yang dihasilkan oleh tumbuhan memiliki kemampuan menghambat kerja radikal bebas.
Pengambilan sampel Sargassum sp dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2017, di Pesisir Lhok Bubon Kabupaten Aceh Barat yang kemudian dikeringkan. Lokasi ini dipilih karena kondisi perairan laut yang relatif lebih bersih, sehingga Sargassum sp tumbuh melimpah. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan langsung Sargassum sp dari substratnya secara mekanik menggunakan tangan. Sargassum sp diisi ke dalam wadah berisi air laut yang kemudian ditransportasikan ke tempat penelitian untuk selanjutnya dikeringkan dengan sinar matahari selama tiga hari dan diekstraksi. Sebelum diekstraksi, sampel kering terlebih dahulu dibersihkan dari komponen-komponen pengotor seperti pasir, garam, kayu, ranting, dan rumput laut jenis lain. Tahap selanjutnya adalah ekstraksi bahan aktif.
Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode ekstraksi tunggal yang mengacu pada (Quinn, 1988 dalam Darusman et al., 1995). Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pelarut polar (metanol), semi polar (etil asetat) dan non polar (n-heksana). Sampel yang telah dihancurkan ditimbang sebanyak 50 gram dan dimaserasi dengan pelarut polar (metanol), semi-polar (etil asetat) dan nonpolar (n-heksana) sebanyak 250 mL selama 24 jam. Hasil maserasi yang berupa larutan kemudian disaring dengan kertas saring sehingga didapat filtrat dan residu. Filtrat yang diperoleh dievaporasi hingga pelarut memisah dengan ekstrak menggunakan rotary vacum evaporator pada suhu kurang dari 50oC.
b.      Metode Pengujian atau Analisis
ü  Penentuan Kadar Air
Sebanyak 1 g serbuk tanaman dimasukkan dalam cawan porselen yang telah dikeringkan dalam oven pada suhu 105 °C selama 30 menit. Cawan porselen yang telah berisi simplisia tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu 105 °C selama 3 jam, didinginkan dalam eksikator, lalu ditimbang bobotnya. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot tetap (AOAC, 1998)
ü  Uji Aktivitas Antioksidan dengan Metode CUPRAC
Sebanyak 1 ml ekstrak dilarutkan dalam etanol 96% ditambahkan 1 ml CuCl2– 2H20 0,01 M; 1 ml neokuproin etanolik 0,0075 M; 1 ml bufer amonium asetat pH 7 1M; dan 0.1 ml akuades. Larutan didiamkan selama 30 menit dan diukur absorbansnya pada 453,4 nm. Sebagai blangko digunakan campuran larutan tanpa ekstrak. Kurva kalibrasi dibuat menggunakan larutan troloks dengan berbagai konsentrasi. Kapasitas antioksidan dinyatakan dalam μmol troloks/g serbuk kering (Apak et al., 2007).
c.       Senyawa yang Dihasilkan
ü  Kadar Air
Serbuk makroalga Sargasssum sp ditentukan kadar airnya. Pengukuran kadar air dilakukan untuk mengetahui daya simpan suatu bahan. Kadar air makroalga Sargasssum sp adalah 10,54 % (b/b). Ekstraksi dilakukan dengan etanol karena merupakan pelarut yang aman digunakan dalam obat-obatan, sesuai dengan lisensi Badan POM. Sementara penggunaan etanol 70% didasarkan hasil penelitian Macari et al. (2006), yaitu pengujian antioksidan tanaman obat dalam etanol 70% menunjukkan aktivitas yang tinggi dibandingkan dengan dalam konsentrasi ataupun beberapa pelarut lainnya. Sementara maserasi atau perendaman dalam pelarut tanpa adanya pemanasan bertujuan agar senyawaan yang terkandung dalam contoh tidak rusak. Proses ini dilakukan selama 3 hari kemudian dilanjutkan dengan pemekatan dan pengeringan ekstrak. Pengeringan ekstrak dilakukan dengan pengering beku pada suhu -70 °C. Rendemen hasil ekstraksi untuk Sargassum sp adalah 0,417 %. Untuk setiap jenis tanaman bergantung pada kandungan senyawa setiap tanaman itu sendiri.
ü  Aktivitas Antioksidan Metode CUPRAC
Pada metode CUPRAC (cupric ion reducing antioxidant capacity), kompleks bisneokuproin-tembaga (II) akan mengoksidasi senyawaan antioksidan dalam ekstrak tanaman dan mengalami reduksi membentuk kompleks bisneokuproin-tembaga (I). Secara visual hal ini dapat dilihat dari perubahan warna kompleks larutan dari biru toska menjadi kuning. Pereaksi CUPRAC merupakan pereaksi yang selektif karena memiliki nilai potensial reduksi yang rendah, yaitu sebesar 0,17 V (Apak et al. 2007). Hasil pengukuran kapasitas antioksidan dengan metode CUPRAC adalah sebesar 180,535 μmol troloks/g serbuk kering. Kapasitas antioksidan makroalga laut Sargassum sp diduga yang diduga mengandung asam hidroksinamat (Alabi et al., 2005). Asam hidrosinamat termasuk golongan polifenol dan dapat berperan sebagai zat antioksidan karena memiliki atom hidrogen dari gugus hidroksil yang dapat disumbangkan pada radikal bebas.
Sargassum sp adalah salah satu tumbuhan tingkat rendah dari kelas alga cokelat, dimana pemanfaatannya belum begitu optimal. Senyawa polifenol adalah salah satu senyawa yang mampu menyumbangkan atom hidroksilnya kepada radikal bebas. Ciriciri senyawa polifenol memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksil (OH). Senyawa fenol yang memiliki gugus hidroksil lebih dari satu disebut polifenol. Senyawa polifenol sebagian besar cenderung bersifat polar, karena memiliki gugus hidroksil. Pada penelitian ini dilakukan ekstrasi senyawa polifenol dari Sargassum sp dan uji aktifitasnya dengan metode DPPH dan FRAP. Uji aktifitas menggunakan metode DPPH mengacu pada Hanani et al. (2005) dan metode FRAP pada Selawa et al. (2013).
2.        Halimeda gracilis  (Basir et al., 2017)
Data produksi rumput laut dari genus Halimeda di Indonesia belum dilaporkan oleh Kementerian Perikanan dan Kelautan karena termasuk jenis yang belum diketahui potensinya. Mayakun et al. (2012) menyatakan bahwa Halimeda spp. banyak dijumpai di perairan tropis. Angka produksi rumput laut dari genus Halimeda di Indonesia maupun negara Asia Tenggara lainnya belum diketahui secara pasti. Papalia dan Arfah (2013) menunjukkan bahwa produktivitas biomasa makroalga di wilayah perairan pesisir pulau Ambalau, Kabupaten Buru Selatan pada genus Halimeda menduduki peringkat kedua terbanyak setelah Caulerpa berdasarkan parameter keragaman, kepadatan, frekuensi kehadiran, dan nilai dominasi dibandingkan genus yang lain dari rumput laut hijau, cokelat maupun merah. Spesies H. gracilis dipilih dalam penelitian ini karena pemanfaatan rumput laut jenis ini belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antibakteri dan antioksidan alga hijau H. Gracilis.
 






Gambar 2. Morfologi H. gracilis (A) segar (B) hasil pengeringan dengan freeze dryer
a.      Metode Pengambilan, Preparasi dan Ekstraksi Makroalga Laut
Rumput laut diambil dari perairan Pulau Karya pada kedalaman sekitar 1 meter. Sampel yang telah dibersihkan dengan air laut disimpan dalam nitrogen cair sebelum dibawa menuju laboratorium. Penyimpanan dalam nitrogen cair agar sampel tidak rusak karena aktivitas biologis selama transportasi, sehingga disimpan dalam nitrogen cair dengan suhu berkisar -200oC. Sampel dikeringkan dengan freeze dryer sebelum dilakukan ekstraksi. Sampel untuk identifikasi dipisahkan dan diawetkan dalam alkohol 70%. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Botani Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ancol, Jakarta Utara.
Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol mengacu pada Singkoh (2011). Metanol ditambahkan dengan perbandingan 1:10 (b/v) ke dalam labu Erlenmeyer berisi rumput laut kering sampai semua bagian terendam sempurna. Maserasi dilakukan selama 24 jam kemudian filtrat disaring menggunakan kertas saring Whatman no. 42. Proses maserasi dilakukan secara berulang hingga tiga kali atau sampai filtrat terlihat bening. Hasil maserasi selanjutnya diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga seluruh metanol menguap dan diperoleh ekstrak kasar rumput laut. Ekstrak kasar yang diperoleh dilakukan analisis fitokimia, uji antibakteri terhadap E. coli dan S. aureus serta uji antioksidan.
b.      Metode Pengujian atau Analisis
ü  Fraksinasi
Fraksinasi mengacu pada metode Pramana dan Saleh (2013) yang dilakukan dengan metode partisi cair-cair menggunakan pelarut etil asetat dan air dengan perbandingan 1:1 (v/v) menggunakan corong pisah. Fraksi yang diperoleh diuapkan sehingga seluruh pelarut menguap. Fraksi air dan fraksi etil asetat yang diperoleh kembali diuji aktivitasnya terhadap bakteri uji S. aureus dan E. coli.
ü  Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan untuk melihat komponen bioaktif pada ekstrak kasar meliputi alkaloid, fenol, saponin, tanin, steroid, flavonoid dan asam amino merujuk pada Harborne (1987). Sebanyak 0,05 g sampel direaksikan dengan masing-masing reagen untuk mengetahui kandungan bioaktif secara kualitatif.
ü  Uji Antibakteri
Uji aktivitas antibakteri ekstrak kasar dilakukan dengan metode difusi sumur agar (agar well diffusion) mengacu pada Ergene et al. (2006). Bakteri uji yang digunakan yaitu S. aureus ATCC6538 dan Escherichia coli ATCC8739. Kedua bakteri ini dipilih untuk mewakili kelompok bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Bakteri ditumbuhkan dalam media agar miring nutrient agar (NA) dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Bakteri yang telah tumbuh disuspensikan pada media cair nutrient broth (NB) steril dan diinkubasi kembali selama 24 jam pada suhu 37oC. Pertumbuhan bakteri dalam media NB diukur kepadatannya menggunakan spektrofotometer untuk mengetahui nilai optical density (OD). Bakteri siap untuk diujikan apabila mencapai OD pada rentang 0,5-0,8. OD bakteri E. coli dan S. aureus pada penelitian ini masing-masing adalah 0,8 dan 0,7. Bakteri uji sebanyak 20 μL dimasukkan ke dalam 20 mL media Muller Hinton Agar (MHA), kemudian dituang pada cawan petri steril secara aseptis. Media MHA berisi bakteri uji yang telah padat kemudian dibuat lubang sebanyak 8 sumur. Dua sumur diisi dengan 20 μL larutan yang mengandung 2 mg ekstrak, dua sumur diisi dengan 20 μL larutan yang mengandung 1 mg ekstrak dan dua sumur diisi dengan 20 μL larutan yang mengandung 0,5 mg ekstrak. Kontrol negatif yang digunakan adalah metanol, sedangkan kontrol positif adalah kloramfenikol sebanyak 300 μg. Cawan berisi bakteri dan ekstrak tersebut disimpan dalam lemari pendingin selama 2 jam agar ekstrak yang diujikan berdifusi. Cawan diinkubasi pada suhu 37oC dan diamati pertumbuhan bakteri setiap 3 jam selama 24 jam.
ü  Uji Antioksidan
Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan menggunakan radikal 1,1-diphenyl-2-picryl-hydrazyl (DPPH) mengacu pada Sharma dan Bhat (2009). Ekstrak kasar rumput laut dilarutkan dalam metanol dengan dibuat konsentrasi 50, 100, 200 dan 400 ppm. Tabung reaksi diisi sebanyak 4,5 mL ekstrak dengan konsentrasi yang telah dibuat sebelumnya dan ditambahkan DPPH sebanyak 0,5 mL kemudian dihomogenisasi dengan vorteks. Sampel diinkubasi pada suhu 37oC selama 30 menit dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517 nm dengan spektrofotometer. Absorbansi dari larutan blanko juga diukur untuk melakukan perhitungan persen inhibisi. Blanko dibuat dengan mereaksikan 4,5 mL pelarut metanol dengan 0,5 mL larutan DPPH. Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan persen inhibisi, yang dihitung dengan formulasi sebagai berikut:
 





c.       Senyawa yang Dihasilkan
ü  Komponen Aktif Ekstrak Kasar H. gracilis
Uji fitokimia yang dilakukan meliputi alkaloid, steroid, saponin, flavonoid, fenol dan tanin. Senyawa aktif ini diduga berperan memberikan aktivitas antibakteri dan antioksidan pada H. gracilis. Hasil uji fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil uji fitokimia H. Gracilis
Pengujian
Hasil pengamatan
Standar (warna)
Alkaloid:

a. Dragendorff
-
Endapan merah atau jingga
b. Meyer
-
Endapan putih kekuningan
c. Wagner
-
Endapan coklat
Steroid
+
Perubahan dari merah jadi biru atau hijau
Saponin
-
Terbentuk busa
Flavonoid
-
Berwarna merah/kuning/hijau
Fenol hidrokuinon
+
Warna hijau atau hijau biru
Tanin
-
Warna biru tua atau hijau kehitaman
Keterangan: (+) Terdeteksi, (-) Tidak terdeteksi
Hasil uji fitokimia menunjukkan ekstrak kasar H. gracilis positif mengandung fenol dan steroid. Komponen aktif yang diduga berperan sebagai antibakteri pada H. gracilis adalah steroid. Dzeha et al. (2003) berhasil mengisolasi senyawa yang memiliki potensi antibakteri dari H. macroloba yaitu clionasterol yang merupakan senyawa golongan triterpenoid. Kandungan fenol pada H. gracilis diduga berperan sebagai antioksidan, namun pada beberapa penelitian steroid juga dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan. Pramana dan Saleh (2013) berhasil mengisolasi senyawa steroid golongan sterol dari tanaman kukang yang memiliki potensi sebagai sumber antioksidan. Doshi et al. (2011) melaporkan bahwa komponen bioaktif fenol pada alga merah dan alga cokelat memiliki peran sebagai antibiotik di antaranya brominated fenol dan sesquiterpen fenol.
Putri dan Hidajati (2015) melaporkan ekstrak metanol kulit batang tumbuhan nyiri batu (Xylocarpus moluccensis) mengandung senyawa fenolik golongan flavonoid dan saponin memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IC50<50 ppm. Farasat et al. (2014) menyatakan bahwa senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan dari rumput laut merupakan senyawa dari golongan fenol dan flavonoid seperti yang banyak ditemukan pada tumbuhan tingkat tinggi.
ü  Aktivitas Antibakteri Ekstrak H. gracilis
Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan bakteri uji S. aureus dan E. coli dengan nilai OD masing-masing sebesar 0,7 dan 0,8. Ekstrak diujikan sebanyak 20 μL yang mengandung 0,5 mg, 1 mg dan 2 mg ekstrak dalam pelarut. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak kasar alga hijau H. gracilis menunjukkan adanya zona hambat pada kedua bakteri uji.
Zona bening yang terbentuk pada uji aktivitas antibakteri ekstrak kasar H. gracilis terhadap kedua bakteri uji (Gambar 2). Ekstrak kasar alga hijau H. gracilis dalam penelitian ini mampu menghambat pertumbuhan S. aureus yang merupakan bakteri Gram positif lebih baik dibandingkan terhadap E. coli yang merupakan bakteri Gram negatif. Zona hambat paling tinggi ditunjukkan pada konsentrasi ekstrak 2 mg, dengan diameter zona hambat sebesar 10 mm pada S. aureus dan 6 mm pada E. coli. Sivakumar dan Vignesh (2014) melaporkan hasil yang lebih baik, ekstrak H. gracilis dengan pelarut gabungan metanol:kloroform (1:1) menggunakan metode difusi sumur agar dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dengan diameter zona hambat 11 mm. Zona hambat pada bakteri uji gram negatif lainnya lebih tinggi, di antaranya : Klebsilla pneumoneae (18 mm), Salmonella typhi (15 mm) dan Vibrio cholerae (14 mm).
 







Gambar 3. Zona bening pada uji aktivitas antibakteri ekstrak kasar H. gracilis; konsentrasi ekstrak setiap sumur (0,5 mg, 1 mg, 2 mg); bakteri uji (A) S. aureus (B) E. Coli
Aktivitas antibakteri juga terlihat pada ekstrak fraksi etil asetat (Gambar 4). Zona hambat tertinggi pada konsentasi 2 mg, masing-masing sebesar 6 mm dan 7,5 mm pada S. aureus dan E. coli. Zona hambat tidak terlihat pada fraksi air, untuk kedua bakteri uji. Hasil ini sesuai dengan penelitian lain pada genus Halimeda. Mishra et al. (2016) menunjukkan aktivitas antibakteri pada bakteri uji E. coli dan S. aureus hanya terlihat pada fraksi etanol dari hasil fraksinasi menggunakan kolom kromatografi. Dzeha et al. (2003) melakukan kajian antibakteri dari jenis alga hijau menunjukkan bahwa ekstrak H. macroloba dengan pelarut etanol:n-heksana, aktif terhadap bakteri E. coli ditunjukkan terbentuknya diameter zona hambat 19 mm.
Gambar 4. Aktivitas antibakteri H. gracilis pada bakteri (A) E. coli (B) S. aureus (hitam) ekstrak kasar metanol (putih) fraksi etil asetat.
Fraksi etil asetat dan fraksi air yang diperoleh dari fraksinasi cair-cair menggunakan corong pisah juga dilakukan uji antibakteri. Fraksinasi dilakukan untuk lebih mengetahui kepolaran senyawa yang berperan sebagai antibakteri dari ekstrak rumput laut H. gracilis.
ü  Aktivitas Antioksidan Ekstrak H. gracilis
Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan terhadap ekstrak kasar alga hijau H. gracilis menggunakan radikal DPPH. Nilai absorbansi digunakan untuk menghitung persentase penghambatan yang menunjukkan kemampuan senyawa aktif di dalam ekstrak menangkap radikal bebas DPPH.
Aktivitas antioksidan ekstrak kasar H. gracilis dengan pelarut metanol dan fraksi etil asetat dapat dilihat pada Gambar 5. Molyneux (2004) menyatakan bahwa suatu senyawa masuk dalam kategori sangat kuat apabila nilai IC50 <50 ppm, kuat 50-100 ppm, sedang 101-150 ppm, dan lemah >150 ppm. Ekstrak H. gracilis pada metanol dan fraksi etil asetat masing-masing memiliki nilai IC50 290,49 ppm dan 375,50 ppm, sehingga berdasarkan kategori tersebut aktivitas antioksidan ekstrak alga hijau H. gracilis sangat lemah.
 









Gambar 5. Aktivitas antioksidan ekstrak H. gracilis ( ekstrak metanol (putih); fraksi etil asetat (hitam)).
Aktivitas antioksidan Ekstrak H. gracilis pada metanol lebih tinggi sebelum dilakukan fraksinasi diduga karena senyawa yang berperan sebagai antioksidan lebih bersifat polar. Aktivitas antioksidan yang turun pada ekstrak H. gracilis fraksi etil asetat dibandingkan ekstrak kasar diduga karena setelah dilakukan fraksinasi ada senyawa yang terpisah dari fraksi etil asetat yang memiliki efek sinergis sebagai antioksidan. Pramesti (2013) melakukan penelitian aktivitas antioksidan alga hijau Caulerpa serrulata. Hasil penelitiannya menunjukkan ekstrak rumput laut C. serrulata mempunyai aktivitas antioksidan dengan IC50 sebesar 136,89 ppm. Aktivitas antioksidan H. gracilis lebih rendah ditunjukkan dengan nilai IC50 yang lebih besar.
3.        Boergesenia forbesii
Sampel alga yang digunakan setelah diambil dari air dimasukkan dalam kantong plastik kemudian diletakkan dalam kotak pendingin (cool box). Setelah itu dilanjutkkan dengan proses maserasi atau perendaman dan ekstraksi (Johnson dan Stevenson, 1991). Prosedur ekstraksi yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan cara maserasi . Tiap jenis sampel alga ditimbang sebanyak 1 kg, dipotong kecil-kecil kemudian dihancurkan dengan blender. Masing-masing sampel alga direndam dengan etanol dan dibiarkan selama l0 hari sambil diaduk setiap hari dengan menggunakan pemusing magnet. Setelah 10 hari larutan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring untuk memisahkan filtrat dan debris. Filtrat kemudian disaring kembali dengan menggunakan kertas whartman 42. Filtrat tersebut kemudian dievaporasi dengan alat rotarivapor untuk menguapkan etanol sehingga diperoleh fraksi etanol. Selanjutnya dikeringkan lagi dengan menggunakan frezee drier.
b.      Metode Pengujian atau Analisis
ü  Pengujian Aktivitas Anti Piretik
1. Pembuatan larutan pepton
Pepton digunakan untuk menaikan suhu tubuh dari mencit (melebihi suhu normal) sehingga mempermudah untuk melihat penurunan suhu yang terjadi. Larutan pepton 10% dibuat dengan menimbang 10 ml pepton, ditambahkan dengan aquadibes injeksi sebanyak 90 ml, kemudian disterilkan.
2. Penyuntikan larutan pepton pada mencit untuk membuat demam
Larutan pepton 10% dengan dosis 150 mg/kg disuntikkan secara subkutan pada bagian belakan gleher. Sebelum penyuntikan larutan pepton, diukur terlebih dahulu suhu badan dari mencit. Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar kenaikan pengukuran suhu untuk melihat perubahan yang terjadi pada mencit. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer suhu badan, dan diukur pada bagian anus.
3. Perlakuan terhadap hewan uji.
Hewan uji yang digunakan (mencit jantan) dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari empat ekor mencit. Setiap kelompok tikus diukur suhu tubuhnya terlebih dahulu sebagai suhu awal, kemudian diberikan larutan pepton 10% dengan perbandingan berat tubuh 150 mg/kg. Setelah didemamkan dengan pepton maka diberikan ekstrak. Pemberian ekstrak dilakukan setelah diberi pepton 10% dan temperatur mencapai puncak yang relatif tetap sesudah itu masing kelompok perlakuan diberikan larutan ekstrak. Konsentrasi ekstrak 1% dilakukan secara oral dengan menggunakan selang NGT (nastro gastric tube). Waktu yang sama kelompok kontrol positif diberikan Parasitamol 0.1% dengan perbandingan 150 mg/kg. Pengukuran suhu dilakukan setiap 30 menit dengan menggunakan termometer pada bagian anus, untuk melihat perubahan suhu yang terjadi setelah pemberian ekstrak
c.       Senyawa yang Dihasilkan
ü  Hasil Pengujian Aktivitas Anti Piretik
Hasil pengukuran suhu menunjukkan adanya variasi suhu rata-rata pada tiap-tiap kelompok setelah diberikan perlakuan. Tinggi rendahnya kenaikan suhu menunjukkan derajat demam yang dialami masing-masing tikus. Semakin tinggi kenaikan suhu berarti semakin tinggi derajat demam yang dialami tikus, demikian pula sebaliknya. Jika setelah perlakuan terjadi penurunan suhu tikus, berarti demam mulai turun, dengan kata lain antipiretiknya meningkat.

Setiap kelompok tikus diukur suhu tubuhnya terlebih dahulu sebagai suhu awal, kemudian disuntikkan larutan pepton 10 %. Selang waktu 30 menit suhu tubuh tikus diukur kembali dan menunjukkan efek pemberian larutan pepton 10% dengan dosis 150 mg/kg bobot badan tikus, memberikan demam yang siknifikan. Diberikan ekstrak 1% dengan dosis 150 mg/kg untuk kelompok perlakuan dan parasitamol 0.1% untuk kelompok positif. Hasil pengamatan suhu tubuh tikus pada masing-masing kelompok dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Data pada Gambar 2, menunjukkan bahwa kelompok tikus kontrol positif memiliki perbedaan penurunan suhu yang bermakna di menit ke-60 sampai menit ke-120 dibandingkan terhadap suhu tubuh kelompok kontrol negatif. Kelompok tikus perlakuan juga memberikan kecenderungan penurunan suhu tubuh dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Hal ini menunjukkan ektrak alga hijau Boergesenia forbesii memiliki aktifitas antipiretik, meski masih berskala ekstrak yang belum murni.




 









Gambar 6. Perubahan suhu tubuh mencit
Komponen alga Boergesenia forbesii yang mempunyai potensi sebagai antipiretik adalah flavonoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam. Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang mudah larut dalam air dan cukup stabil dalam pemanasan yang mencapai suhu 100oC selama lebih dari 30 menit. Senyawa fenol mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil. Semua senyawa fenol berupa senyawa aromatik. Flavonoid dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Wattimena, 1991). Efek flavonoid terhadap bermacam-macam organisme sangat banyak macamnya dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung flavonoid dipakai dalam pengobatan tradisional.
Beberapa flavonoid menghambat fosfodiesterase, sedangkan flavonoid lain menghambat aldoreduktase, monoaminoksidase, protein kinase, DNA polimerase dan lipooksigenase. Penghambatan siklooksigenase dapat menimbulkan pengaruh lebih luas karena reaksi siklooksigenase merupakan langkah pertama pada jalur yang menuju ke hormon eikosanoid seperti prostaglandin dan tromboksan. Prostaglandin sendiri penting dalam peningkatan hypothalamic therm set point. Mekanisme penghambatan inilah yang menerangkan efek antipiretik dari flavonoid (Hoen dan Rahardja, 2002).
4.        Sargassum plagyophyllum dan Eucheuma cottonii (Dolorosa et al., 2017)
Genus dari Divisi Phaeophyta salah satunya adalah Sargassum. Beberapa spesies dari rumput laut cokelat dilaporkan memiliki aktivitas penghambatan tirosinase, di antaranya ekstrak S. silquastrum dengan aktivitas penghambatan tirosinase sebesar 50% (Seon-Heui et al. 2011); ekstrak metanol Sargassum sp. sebesar 27,50±0.9 ppm pada substrat l-tyrosine (monofenolase) dan 209,06±64,96 ppm pada substrat L-DOPA (difenolase) dan senyawa bioaktif yang didapatkan antara lain flavonoid, saponin, fenol, steroid, dan terpenoid (Putri 2014). Pratama et al. (2015) melaporkan hasil penapisan fitokimia pada simplisia S. duplicatum mengandung flavonoid jenis flavonol dan memiliki nilai IC50 sebesar 14,351 ppm. Keberadaan senyawa phlorotannin yang turut berperan dalam melindungi kerusakan kulit terhadap radikal bebas yang disebabkan oleh paparan sinar UV sehingga menghambat pembentukan melanin (Svobodová et al. 2003). Nurjanah et al. (2015) melaporkan nilai IC50 pada ekstrak metanol Sargassum sp. sebesar 57,05 ppm dan jumlah ketersediaan vitamin E sebesar 165,19 ppm. Aktivitas antioksidan pada sediaan bubur Sargassum sp. dengan nilai IC50 sebesar 119,66 ppm (Luthfiyana et al. 2016). Salah satu jenis rumput laut cokelat yang potensial untuk dimanfaatkan adalah S. plagyophyllum. Karakteristik biologi S. plagyophyllum memiliki gelembung udara (bladder), cabang rimbun, daun melebar atau seperti pedang. S. plagyophyllum memiliki batang pada batang utama dan percabangan berbentuk silindris, namun batang dan percabangannya licin (tidak berduri), tumbuh pada substrat batu di daerah rataan terumbu karang. Pigmen fukosantin dan xantofil memberikan warna cokelat pada rumput laut cokelat (Firdaus 2011). Merdekawati dan Susanto (2009) melaporkan beberapa pigmen dominan yang terdapat pada Sargassum sp. antara lain klorofil a 52,82%, fukosantin 20,95%, turunan klorofil 15,23%, xantofil 8,46%, karoten 1,49% dan klorofil c 1,05%. Diachanty et al. (2017) melaporkan total fenolik ekstrak etanol S. polycystum yaitu 8287,18 mg GAE/g serta komposisi mineral S. polycystum meliputi Fe 0,03±0,00 mg/g, Ca 11,28±0,03 mg/g, K 34,49±0,70 mg/g, Na 19,34±0,11 mg/g dan Mg 8,67±0,16 mg/g.
Salah satu spesies karaginofit adalah E. cottonii atau Kappaphycus alvarezii. Pigmen klorofil (hijau), karoten (keemasan) dan fikoeritrin (merah) adalah beberapa zat warna penyusun dari rumput laut merah E. cottonii. Yanuarti et al. (2017) melaporkan total fenolik ekstrak metanol dan etil asetat E. cottonii masing-masing 141,00 mg GAE/g dan 134,33 mg GAE/g, sedangkan total flavonoid ekstrak metanol dan etil asetat masing-masing 17,78 mg QE/g dan 35,18 mg QE/g. Merdekawati dan Susanto (2009) melaporkan E. cottonii mengandung beberapa pigmen yang dominan, antara lain klorofil a 74,920%, turunan klorofil 16,418%, xantofil 7,715% dan karoten 0,947%. Proses pembentukan melanin dapat direduksi dengan mekanisme antioksidan. Beberapa penelitian tentang potensi E. cottonii sebagai antioksidan telah dilaporkan. Nurjanah et al. (2015) melaporkan nilai IC50 dari ekstrak metanol E. cottonii sebesar 105,04 ppm, ketersediaan vitamin E sebesar 160,01 ppm. Maharany et al. (2017) melaporkan kandungan vitamin E pada E. cottonii 158,07 ppm, nilai IC50 ekstrak metanol E. cottonii 106,021 ppm dan terdapat beberapa senyawa fitokimia antara lain flavonoid, fenol hidrokuinon dan triterpenoid. Luthfiyana et al. (2016) melaporkan pada sediaan bubur E. cottonii memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 127,23 ppm. Rumput laut dikembangkan pada bidang kosmetika dengan memanfaatkan sifat fisiko-kimiawi antara lain membentuk gel, kekentalan, mengikat air, dan mengikat ion sehingga dapat mempertahankan kelembaban (Yunizal 2004). Rumput laut digunakan dalam pembuatan sediaan kosmetik dalam bentuk karagenan. Karagenan adalah polisakarida sulfat yang diperoleh dari ekstraksi menggunakan air atau alkali dari spesies Eucheuma cottonii. Karagenan terdiri dari potassium, sodium, magnesium dan ester kalsium sulfat dari galaktosa dan kopolimer 3,6-anhydro-galactose (Laurienzo 2010). Karagenan digunakan dalam industri kosmetika sebagai stabilizer, suspensi dan pelarut (Suparmi dan Sahri 2009). Karagenan menunjukkan kemampuan menyebar dan memiliki kapasitas menahan air sehingga digunakan sebagai pelembab. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia meliputi logam berat, metabolit sekunder (senyawa fitokimia), kadar air, vitamin C dan E, serta aktivitas antioksidan dan jumlah angka lempeng total (TPC) pada simplisia dan bubur S. plagyophyllum dan E. cottonii.
a.      Metode Pengambilan, Preparasi dan Isolasi Makroalga Laut
ü  Pengambilan dan preparasi sampel
Rumput laut S. plagyophyllum diperoleh dari perairan pantai Pasauran, Serang, Banten. Sampel S. plagyophyllum berada dalam keadaan segar, dicuci dengan air laut dan segera ditransportasikan ke laboratorium menggunakan cool box. Sampel S. plagyophyllum dicuci dengan larutan garam,untuk meminimalisir pasir, lumpur dan garam mineral. Tujuan pencucian adalah menghilangkan bau dan rasa amis yang terdapat pada alga cokelat (Yunizal, 2004). Sampel dikering-anginkan selama 5-6 hari (Masduqi et al. 2014). Tujuan dari pengeringan ini adalah untuk mempertahankan kandungan bahan kimia dari rumput laut ini. Bahan baku disimpan hingga akan digunakan dalam penelitian. Sampel E. cottonii diperoleh sudah dalam keadaan kering dari hasil budidaya masyarakat Desa Lontar, Serang, Banten. Sampel E. cottonii dicuci dengan larutan garam dan dikeringkan kembali di bawah sinar matahari agar sampel dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.
Penelitian diawali dengan menganalisis komposisi kimia dan mikrobiologi berupa kadar air, logam berat dan angka lempeng total pada simplisia S. plagyophyllum dan E. cottonii. Rumput laut dibuat dalam sediaan bubur, kemudian dianalisis senyawa fitokimia, vitamin C dan E, serta aktivitas antioksidan.
ü  Preparasi bubur rumput laut
Rumput laut direndam menggunakan air deionisasi selama 12 jam dengan perbandingan rumput laut dan air deionisasi 1:20 (Saputra 2012). Tujuan perendaman dilakukan utnuk melembikkan (melembutkan) rumput laut supaya memudahkan dalam homogenisasi. Proses perendaman atau rehidrasi dilakukan untuk menghilangkan bau dan rasa amis yang mungkin terdapat dalam kedua jenis rumput laut yang digunakan (Yunizal 2004). Rumput laut dihomogenisasi dengan air deionisasi dengan perbandingan antara sampel dan air 1:1. Penghomogenan menggunakan blender selama 3-5 menit.
b.      Metode Pengujian atau Analisis
ü  Kadar air
Komposisi kimia rumput laut S. plagyophyllum dan E. cottonii diketahui dengan analisis kadar air berdasarkan AOAC (2005). Analisis kadar air dilakukan dengan metode pengeringan oven pada suhu 105oC.
ü  Logam berat
Pengujian kandungan logam berat dilakukan pada bahan baku dengan metode spektrofotometeri serapan atom (SSA). Jenis residu logam berat yang diuji pada sampel bahan baku rumput laut E. cottonii dan S. plagyophyllum adalah timbal (Pb) dan kadnium (Cd) (BSN 2011), arsen (As) (Nurjanah et al. 1999), merkuri (Hg) (BSN 2016), dan timah (Sn) (Vera 2011).
ü  Total mikroba
Perhitungan total mikroba dilakukan secara aseptis yang mengacu pada metode BSN (1992). Sampel yang digunakan adalah simplisia kering rumput laut S. plagyophyllum dan E. cottonii. Media yang digunakan adalah Plate Count Agar (PCA) yang steril pada suhu 45-55oC. Total mikroba diperoleh dengan menghitung jumlah koloni yang tumbuh.  
ü  Analisis fitokimia
Skrining fitokimia dilakukan mengacu pada Harborne (1984). Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui metabolit sekunder (komponen bioaktif) yang terdapat pada bubur S. plagyophyllum dan E. cottonii. Analisis fitokimia yang dilakukan terdiri dari analisis alkaloid, flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid/triterpenoid, tanin, dan saponin.
ü  Analisis vitamin C
Pengujian vitamin C secara umum adalah menghomogenkan sampel dengan asam metafosfat, kemudian dilakukan pemisahan asam askorbat menggunakan kolom oktadesil silan (ODS, C-18), fase gerak larutan fosfat (bentuk asam atau garam) pada panjang gelombang 254 nm (Rohman dan Sumantri 2013). Sampel yang digunakan adalah bubur rumput laut merah dan cokelat. Penentuan kadar vitamin C mengacu pada metode Khalili et al. (2010) dengan membandingkan waktu retensi dan spiking tes pada sampel dengan L-asam askorbat. Sampel sebanyak 5 μL di-inject-kan ke dalam High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan kecepatan aliran eluen 0.8 mL/menit. Fase gerak (eluen) yang digunakan adalah asam fosfat 1% dengan kolom oktadesil silan (ODS merek Cronus, C-18). Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 254 nm.
ü  Analisis vitamin E
Sampel yang digunakan adalah bubur rumput laut merah dan cokelat. Penentuan kadar vitamin E mengacu pada metode Sarikaya dan Kalayar (2011) dengan menggunakan perbandingan antara waktu retensi (RT) pada standar vitamin E dengan sampel. Larutan standar yang digunakan adalah α-tokoferol dan tokoferol asetat. Sampel sebanyak 20 μL diinjekkan ke dalam HPLC dengan kecepatan aliran eluen 1.5 mL/menit. Fase gerak (eluen) yang digunakan adalah metanol:air (95:5% v/v) dengan kolom oktadesil silan (ODS merk Cronus, C-18). Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 280 nm.
ü  Aktivitas antioksidan rumput laut
Analisis aktivitas antioksidan mengacu pada Salazar-Aranda et al. (2009) dengan metode DPPH. Sampel bubur rumput laut diabsorbansi pada panjang gelombang 517 nm menggunakan spektrofotometer UV-Visible. Persentasi penghambat aktivitas radikal bebas diperoleh dari nilai absorbansi sampel. Persamaan regresi diperoleh dari hubungan antara konsentrasi sampel dan persentasi penghambatan aktivitas radikal bebas. Nilai konsentrasi penghambatan aktivitas radikal bebas sebanyak 50% (IC50) dihitung menggunakan persamaan regresi linier. Nilai IC50 diperoleh dengan memasukkan y=50 serta nilai A dan B yang telah diketahui.
c.       Senyawa yang Dihasilkan
ü  Kadar air
Bahan baku yang digunakan adalah rumput laut S. plagyophyllum dan E. cottonii yang dilakukan pengeringan dengan sistem kering angin selama 5-6 hari. Rendemen rumput laut S. plagyophyllum adalah 16,795% dengan rasio penyusutan dari kondisi segar sebesar 1:6 (berat segar : berat kering). Kadar air S. plagyophyllum diperoleh sebesar 16,71%. Hasil uji kadar air S. plagyophyllum jika dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Masduqi et al. (2014) menggunakan rumput laut S. polycystum 14,43%, cenderung masih lebih tinggi. Metode pengeringan yang telah dilakukan menggunakan kering angin. Perbedaan jumlah kandungan air yang terdapat pada kedua jenis Sargassum ini dipengaruhi oleh perbedaan waktu dan proses pengeringan yang dilakukan. Proses pengeringan pada bahan baku yang tidak merata dan terdapat perubahan temperatur dan kelembaban lingkungan secara fluktuatif dapat mempengaruhi kandungan air. Sampel rumput laut pada proses pengeringan dilakukan pembolak-balikan agar pengeringan secara merata. Rumput laut yang telah dikeringkan, disimpan pada suhu ruang (untuk mempertahankan kadar air).
Kadar air rumput laut E. cottonii yang diperoleh dari pembudidaya rumput laut sebesar 40,10%. Rumput laut E. cottonii memiliki kandungan air yang lebih tinggi dibandingkan dengan S. plagyophyllum. Perbedaan spesies dan umur panen dapat mempengaruhi kadar air. Setiap spesies memiliki kadar air yang berbeda dan semakin tua dalam umur panen maka kandungan air yang terdapat dalam bahan baku juga berbeda. E. cottonii diperoleh dari hasil budidaya yang telah dikeringkan oleh masyarakat Desa Lontar Serang, Banten. Standar kadar air E. cottonii adalah 30% (BSN 2015). Hal yang mempengaruhi kandungan air cenderung tinggi (di atas standar nasional) adalah kondisi penyimpanan setelah dikeringkan. Hasil pertanian atau perikanan bersifat higroskopis menyerap air dari lingkungan dan melepaskan air ke lingkungan. Bahan baku dapat menyerap air apabila kondisi lingkungan memiliki kelembaban relatif tinggi dan akan melepaskan kembali air apabila kelembaban relatif rendah baik dalam proses pengeringan dan selama penyimpanan.
E. cottonii dilakukan pengeringan kembali di bawah sinar matahari dan diperoleh kadar air sebesar 19,79%. Proses pengeringan akan terjadi penguapan air dari rumput laut dan membentuk butiran garam yang melekat pada permukaan thallus. Alamsyah et al. (2013) menyatakan butiran garam dapat dibuang dengan cara mengayak rumput laut dan butiran garam dapat turun melalui saringan. Rumput laut akan menjadi lembab kembali apabila masih banyak terdapat butiran garam.
Tabel 2. Kandungan logam berat E. cottonii dan S. plagyophyllum






ü  Logam berat
Sediaan kosmetik yang mengandung logam berat berbahaya dalam kadar yang berlebih akan kontak dengan kulit secara langsung dan terabsorbsi masuk ke dalam darah serta menyerang organ tubuh sehingga menyebabkan penyakit (Erasiska et al. 2015). Pengujian kandungan logam berat dilakukan pada bahan baku dan dibandingkan dengan standar logam berat pada rumput laut kering yang telah ditetapkan oleh BSN (2015). Kandungan logam berat E. cottonii dan S. plagyophyllum disajikan pada Tabel 2. Kandungan logam berat pada rumput laut S. plagyophyllum memenuhi standar batas aman yang telah ditetapkan sehingga aman digunakan sebagai bahan baku untuk sediaan kosmetik. Kandungan timbal dan kadnium pada rumput laut E. cottonii tidak memenuhi standar batas aman. Diachanty et al. (2017) melaporkan kandungan logam berat S. polycystum yang diperoleh dari perairan Pulau Pramuka (Kepulauan Seribu) meliputi Pb 6,43 mg/kg, Hg 0,24 mg/kg dan Cu 5,66 mg/kg.
Akumulasi logam berat tergantung pada konsentrasi logam tersebut dalam air atau lingkungan, suhu, keadaan spesies dan aktivitas fisiologis (Connel dan Miller 1995). Hal ini didukung oleh Prihantono et al. (2014) melaporkan hasil pengukuran terhadap kualitas air di perairan Kabupaten Serang berada di atas baku mutu yang telah disyaratkan oleh (KLH 2004). Walaupun jumlah mutu terhadap logam berat tidak dipaparkan lebih rinci, akan tetapi kualitas air berada di atas baku mutu 0,001 mg/L untuk raksa, 0,012 mg/L untuk arsen, 0,001 mg/L untuk kadnium, dan 0,008 mg/L untuk timbal (KLH 2004).
Rumput laut memiliki kemampuan dalam mengakumulasi logam berat di dalam thallusnya dari lingkungan perairan tempat hidupnya. Rumput laut memiliki cara hidup yang relatif menetap sehingga kecil kemungkinannya untuk menghindar dari perubahan lingkungan perairan yang membahayakan. Hutagalung (1991) menjelaskan bahan cemaran yang masuk ke dalam lingkungan laut, akan mengalami tiga proses akumulasi antara lain secara fisik, kimia dan biologis. Rumput laut menyerap zat pencemar yang masuk ke ekosistem air laut yang dipekatkan oleh proses biologis.
Penggunaan air deionisasi bertujuan meminimalisir kontaminasi logam berat selama proses produksi sediaan kosmetik. Air deionisasi adalah air yang memiliki kandungan total organik karbon lebih kecil dari 3 μg/L (ppm) (BSN 2016). Luthfiyana et al. (2016) menyatakan bahwa air deionisasi memiliki tingkat kemurnian yang sangat tinggi (Ultra Pure Water), jumlah kadar zat ionik dan anionik mendekati nol, menghilangkan ion garam dan berbagai macam ion logam.
ü  Total mikroba
Pengujian total mikroba dilakukan pada bahan baku dengan metode angka lempeng total (ALT). Total mikroba S. plagyophyllum sebesar 2,3×102 koloni⁄g dan E. cottonii sebesar 2,2×103 koloni⁄g. Jumlah ini masih memenuhi standar batas layak konsumsi ALT menurut BSN (2009) adalah 1×105 koloni⁄g. Total mikroba yang terdapat pada rumput E. cottonii lebih tinggi dibandingkan dengan S. plagyophyllum. Hidayah et al. (2015) menyatakan peningkatan total bakteri berkaitan dengan kadar air yang terdapat dalam bahan baku. Air merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba (Rienoviar dan Nashrianto 2010). Kadar air yang terdapat pada E. cottonii lebih tinggi dibandingkan dengan S. plagyophyllum. Putri (2012) menambahkan pengeringan dengan sinar matahari sangat bergantung pada cuaca dan memungkinkan terjadinya kontaminasi selama penjemuran yaitu debu, kotoran atau serangga.
ü  Kandungan fitokimia S. plagyophyllum dan E. cottonii
Kandungan fitokimia adalah metabolit sekunder yang terdapat pada suatu simplisia. Anggriyamurti (2014) mendefiniksikan metabolit sekunder adalah hasil reaksi dari metabolit primer yang biasa digunakan oleh tumbuhan untuk mempertahankan diri. Analisis fitokimia dilakukan secara kualitatif untuk menentukan senyawa bioaktif yang berperan sebagai senyawa pencerah kulit. Senyawa bioakif yang terdapat pada bubur E. cottonii dan S. plagyophyllum disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kandungan fitokimia E. cottonii dan S. plagyophyllum








Komponen bioaktif alkaloid dan terpenoid yang terdapat pada bubur E. cottonii. Bubur S. plagyophyllum mengandung beberapa komponen bioaktif antara lain alkaloid, steroid, flavonoid, saponin, dan tanin. Senyawa bioaktif yang diduga berperan sebagai inhibitor tirosinase yang terdapat pada ekstrak metanol Sargassum sp. antara lain flavonoid, saponin, fenol dan steroid (Putri 2014). Pembuatan bubur rumput laut menggunakan pelarut air demineralisasi.
Metanol dan air demineralisasi merupakan pelarut polar akan tetapi air demineralisasi lebih polar dibandingkan dengan metanol. Tingkat kepolaran pelarut mempengaruhi jenis senyawa polifenol yang terekstraksi. Pemilihan air demineralisasi pada pembuatan bubur rumput laut dianggap lebih aman dan tidak meninggalkan residu bahan kimia yang berbahaya.
Gazali et al. (2014) melaporkan seyawa flavonoid dan tanin yang terdapat dalam ekstrak metanol kulit buah nyirih (Xylocarpus granatum) merupakan senyawa yang memiliki aktivitas inhibitor tirosinase. Flavonoid dan tanin termasuk ke dalam kelompok senyawa polifenol. Senyawa polifenol adalah senyawa yang bersifat polar yang memiliki cincin aromatik dengan jumlah gugus hidroksil (OH-) lebih dari satu. Chang (2009) menambahkan flavonoid, salah satu dari polifenol, memiliki peran besar dalam aktivitas tirosinase karena mengandung gugus fenol dan cincin piren. Struktur dari flavonoid secara prinsip sesuai sebagai substrat dan mampu berkompetisi sehingga dapat menjadi penghambat tirosinase. Juwita et al. (2011) menyatakan ekstrak kulit batang nangka adalah penghambat kompetitif dengan mekanisme penghambatan terjadi karena senyawa aktif memiliki struktur yang mirip dengan L-DOPA sebagai substrat dan akan berkompetisi untuk berikatan pada sisi aktif tirosinase (atom Cu) yang menyebabkan tidak terjadinya reaksi oksidasi sehingga berkurang pembentukan dopakuinon dan dopakrom.
Alkaloid terdapat pada daun (tempat fotosintesa), kuncup muda, akar pada tumubuhan, serta alkaloid larut dalam air jika berupa garam alkaloid (HCl dan H2SO4), dan akan larut dalam pelarut organik jika dalam bentuk basa (Sirait 2007). Terpenoid adalah senyawa aktif yang terbentuk dari dua isopren aktif (isopentenil pirofosfat atau IPP dan dimetilalil pirofosfat atau DMAPP). Dua isopren ini berasal dari asam mevalonat. Terpenoid dijumpai dalam bentuk glikosida, glikosil ester, dan iridoid. Steroid adalah senyawa aktif yang terdiri dari 17 atom karbon dengan membentuk struktur dasar 1,2-siklopentenoperhidrofenantren. Saponin adalah senyawa yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air (Kristanti et al. 2008). Mekanisme saponin dari sampel Xanthoceras sorbifolia sebagai inhibitor tirosinase adalah meningkatkan nilai Km akan tetapi menurunkan nilai laju oksidasi yang diindikasi dari rendahnya nilai Vmax dengan laju penghambatan 52% pada konsentrasi 0,96 mg/mL (Zhang dan Zhou 2013).
ü  Kadar vitamin C
Rumput laut memiliki senyawa fitonutrien yang terdiri dari senyawa polifenol dan non polifenol. Kelompok non polifenol di antaranya adalah vitamin. Handayani et al. (2004) menyatakan vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air. Kandungan vitamin C yang terdapat pada E. cottonii 15,95 mg/kg (berat kering) dan S. plagyophyllum 212,95 mg/kg (berat kering). Kadar vitamin C ini masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan kadar vitamin C rumput laut secara umum. Menurut Burtin (2003), kadar vitamin C untuk rumput laut cokelat mencapai 500-300 mg/kg dan 100-800 mg/kg untuk rumput laut merah. S. plagyophyllum dikeringanginkan sedangkan E. cottonii dikeringkan di bawah sinar matahari. Hal ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain, spesies, umur panen, penyimpanan, kontak dengan lingkungan saat pengeringan sampel, dan pengolahan. Sejati (2012) melaporkan bahwa vitamin C yang terdapat dalam sampel rentan terhadap udara, cahaya, panas, dan sudah rusak selama penyimpanan sehingga vitamin C yang tersisa jauh lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan sebelum penanganan atau penyimpanan (Kumalaningsih 2006). Daya tahan vitamin yang terdapat dalam bahan pangan yang dikeringkan dengan alat pengering (oven) lebih baik dibandingkan dengan di bawah sinar matahari karena dapat dengan cepat melepaskan kandungan air dalam bahan baku.
ü  Kadar vitamin E
Vitamin C dan E tergolong antioksidan sekunder. Kedua jenis vitamin ini dapat menangkap radikal bebas, mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar, serta menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat oksigen. Kandungan vitamin E yang terdapat pada E. cottonii 0,23 mg/kg (berat kering) dan S. plagyophyllum 363,86 mg/kg (berat kering). Nurjanah et al. (2015) melaporkan kandungan vitamin E yang terdapat pada E. cottonii segar 160,01 mg/kg dan Sargassum sp. segar 165,19 mg/kg. Matanjun et al. (2009) melaporkan kandungan vitamin E pada simplisia kering dari rumput laut E. cottonii dan S. polycystum masing-masing sebesar 58,5 mg/kg dan 112,9 mg/kg. Kadar vitamin E yang terdapat pada E. cottonii sangat sedikit, diduga disebabkan oleh proses pengeringan di bawah sinar matahari kembali. Jumlah vitamin E pada rumput laut cokelat lebih tinggi bila dibandingkan dengan rumput laut merah. Suparmi dan Sahri (2009) menjelaskan bahwa rumput laut cokelat mengandung α, β, dan γ-tokoferol, sedangkan pada rumput laut merah hanya mengandung α- tokoferol, sehingga jumlah vitamin E pada alga cokelat lebih besar dibandingkan dengan alga merah. Syamsudin (2013) mendefinisikan vitamin E adalah vitamin yang memiliki cincin kromanol dan rantai karbon C-12 alifatis yang mengandung dua kelompok senyawa metil di pertengahan dan di ujung. Mekanisme aksi tokoferol sebagai antioksidan adalah melibatkan transfer hidrogen pada kelompok 6-OH pada cincin krinamol, penangkapan radikal bebas, dan regenerasi dengan ketersediaan asam askorbat.
ü  Aktivitas antioksidan S. plagyophyllum dan E. cottonii
Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode penangkapan radikal bebas dengan vitamin C (L-asam askorbat) sebagai pembanding. Larutan DPPH berwarna ungu tua dalam pelarut metanol karena adanya delokalisasi elektron pada bagian molekul DPPH (Amin 2015). Kristanti et al. (2008) menyatakan bahwa karena sifat DPPH adalah stabil maka terjadi delokalisasi elektron yang dapat meningkatkan warna ungu dan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm. Perubahan warna yang terjadi dikarenakan adanya reaksi antara molekul 1,1 -difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH*) dengan atom H yang dilepaskan oleh molekul komponen sampel uji (senyawa antioksidan) sehingga terbentuk senyawa 1,1-difenil-2- pikrilhidrazin (DPPH) berwarna kuning (Biranti et al. 2009).
Nilai aktivitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 yang terdapat dalam sediaan bubur S. plagyophyllum dan E. cottonii masing-masing sebesar 109 ppm dan 130,62 ppm dibandingkan dengan nilai IC50 dari vitamin C (L-asam askorbat) sebesar 6,56 ppm. Luthfiyana et al. (2016) melaporkan nilai IC50 dari bubur Sargassum sp. adalah 119,66 ppm dan 127,23 ppm untuk bubur E. cottonii, nilai IC50 vitamin C sebesar 6,29 ppm. Aktivitas antioksidan dari sediaan bubur tergolong sedang (100-150 μg/mL) dan vitamin C tergolong sangat kuat (<50 μg/mL). Molyneux (2004) menyatakan bahwa senyawa yang disebut aktif sebagai antioksidan apabila nilai IC50 kurang dari 200 μg/mL. Bila nilai IC50 yang diperoleh berkisar antara 200-1000 μg/mL, maka zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat antioksidan. Vitamin C memiliki aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan sampel yang digunakan. Hal ini disebabkan oleh vitamin C yang digunakan dalam bentuk murni dan dalam bentuk isomer L. Isomer L memiliki aktivitas yang lebih besar dibandingkan dengan isomer D. Winarsi (2007) menyatakan vitamin C dalam keadaan murni berbentuk kristal putih dengan berat molekul 176,13 dengan rumus molekul C6H6O6. Isomer D memiliki aktivitas hanya 10% dari isomer L.
5.        Padina australis dan Eucheuma cottonii (Maharany et al, 2017)
Rumput laut coklat mengandung senyawa fenolik berupa florotanin yang berfungsi sebagai pertahanan dari radiasi sinar ultra violet (UV). Florotanin dapat menangkap radikal bebas yang disebabkan oleh radiasi sinar UV (Henry & Alystyne 2004; Chojnacka et al. 2012). Rumput laut coklat juga diketahui mengandung senyawa flavonoid. Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenolik yang memiliki gugus kromofor. Gugus kromofor tersebut menyebabkan kemampuan untuk menyerap gelombang sinar UV (Svobodová et al. 2003; Prasiddha et al. 2016). Jenis rumput laut coklat yang potensial untuk dimanfaatkan salah satunya adalah Padina australis.
Kappaphycus alvarezii adalah nama lain dari E. cottonii, namun E. cottonii lebih dikenal dalam dunia perdagangan nasional maupun internasional. Produksi rumput laut di seluruh Indonesia berasal dari budidaya, antara lain dikembangkan di Jawa, Bali, NTB, Sulawesi dan Maluku (Nur 2009). Rumput laut E. cottonii mengandung protein, lipid, karbohidrat, α tokoferol, mineral, vitamin C, dan vitamin E (Wandansari et al. 2013; Pringgenies et al. 2013), dapat mensintesis senyawa mycosporine (MAAs) yang berperan dalam absorpsi sinar UV (Carreto & Carignan 2011; Rosic & Dove 2011; Navarro 2015). Rumput laut digunakan dalam pembuatan kosmetik dalam bentuk karagenan, yaitu pada produk sabun (Hidayat 2006), losion (Erungan et al. 2009; Razi 2009; Purwaningsih et al. 2015), dan gel topikal (Wulandari 2012) serta dalam bentuk bubur rumput laut untuk krim tabir surya (Luthfiyana et al. 2016). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi kimia, senyawa fitokimia, vitamin E, dan aktivitas antioksidan ekstrak P. australis dan E. cottonii.



a.      Metode Pengambilan, Preparasi dan Ekstraksi Makroalga Laut
ü  Pengambilan dan preparasi sampel
Rumput laut P. australis diambil dari perairan Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Pengambilan sampel langsung dari dasar laut. P. australis dibersihkan dan dicuci dengan air laut, kemudian dibilas dengan air tawar untuk menghilangkan pasir dan kotoran lainnya. P. australis yang telah dicuci kemudian dikeringkan dan disimpan dalam kotak stearofoam untuk ditransportasikan ke laboratorium. Rumput laut E. cottonii diperoleh dari hasil budidaya masyarakat di perairan Serang, Banten. Sampel E. cottonii diperoleh sudah dalam keadaan kering, kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran yang masih tersisa, kemudian ditransportasikan ke laboratorium menggunakan cool box. Sampel yang akan digunakan dikering anginkan dan dipotong untuk mempermudah proses ekstraksi.
Penelitian ini diawali dengan menganalisis komposisi kimia rumput laut P. australis dan E. cottonii. Rumput laut P. australis dan E. cottonii diekstrak secara bertingkat dengan menggunakan 3 jenis pelarut. Ekstrak P. australis dan E. cottonii selanjutnya dianalisis senyawa bioaktif, vitamin E dan aktivitas antioksidan.
ü  Ekstraksi rumput laut
Ekstraksi rumput laut P. australis dan E. cottonii dilakukan secara bertingkat berdasarkan Chan et al. (2011) dengan modifikasi. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan 3 jenis pelarut organik. Pelarut organik yang digunakan adalah metanol, etil asetat dan n-heksan. Sampel P. australis dan E. cottonii sebanyak 100 gram segar dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan dengan 500 mL pelarut n-heksan (1:5 b/v). Sampel dimaserasi dalam keadaan gelap selama 3 hari. Hasil maserasi difiltrasi dengan kertas Whatmann No. 42 untuk memisahkan filtrat dan residu. Residu yang telah terpisah kemudian dimaserasi kembali dengan pelarut etil asetat dalam keadaan gelap selama 3 hari. Hasil maserasi difiltrasi dan residu yang terpisah dimaserasi kembali dengan pelarut metanol selama 3 hari. Filtrat yang telah terpisah selanjutnya dievaporasi pada suhu 40°C dengan rotary evaporator. Rendemen dihitung sebagai persentasi dari ekstrak yang dihasilkan melalui proses ekstraksi.



b.      Metode Pengujian atau Analisis
ü  Komposisi kimia
Komposisi kimia rumput laut P. australis dan E. cottonii diketahui dengan analisis proksimat berdasarkan AOAC (2005). Analisis proksimat yang dilakukan meliputi uji kadar air dan kadar abu dengan metode oven, uji kadar protein menggunakan metode kjeldahl, uji kadar lemak menggunakan metode soxhlet, dan uji karbohidrat secara by difference.
ü  Senyawa Bioaktif Ekstrak Rumput Laut
Analisis fitokimia dilakukan mengacu pada Harborne (1987). Analisis fitokimia dilaukan untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif pada ekstrak P. australis dan E. cottonii. Analisis fitokimia yang dilakukan terdiri dari analisis flavonoid, fenol hidrokuinon, steroid/triterpenoid, tanin, dan saponin.
ü  Penentuan kadar vitamin E
Penentuan kadar vitamin E mengacu pada metode Sarikaya & Kalayar (2011) dengan menggunakan perbandingan antara retention time (RT) vitamin E pada sampel dan standar. Penentuan kadar vitamin E menggunakan alat HPLC. Fase gerak yang digunakan berupa metanol:air (95:5% v/v) pada suhu 30°C. Sampel sebanyak 20 μL dimasukkan ke dalam vial dengan laju aliran eluen 1,5 mL/ menit. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 291 nm.
ü  Aktivitas antioksidan rumput laut
Analisis aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil) mengacu pada Salazar-Aranda et al.(2009). Absorbansi sampel diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 517 nm. Penghambatan aktivitas radikal bebas diperoleh dari nilai absorbansi sampel. Persamaan regresi diperoleh dari hubungan antara konsentrasi sampel dan presentase penghambatan aktivitas radikal bebas. Nilai konsentrasi penghambatan aktivitas radikal bebas sebanyak 50% (IC50) dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linier.
c.       Senyawa yang Dihasilkan
ü  Komposisi kimia P. australis dan E. cottonii
Analisis proksimat bertujuan untuk menetukan komposisi kimia pada rumput laut P. australis dan E. cottonii. Kadar karbohidrat rumput laut P. australis dan E. cottonii diperoleh melalui perhitungan by difference. Komposisi kimia rumput laut P. australis dan E. cottonii dapat dilihat pada Tabel 4.
Hasil analisis pada Tabel 4 menunjukkan kadar air P. australis yang diperoleh 87,25%. Hasil yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Santoso et al. (2013), yaitu 90,56%. Kadar air E. cottonii yang diperoleh sebesar 76,15%, sedangkan pada penelitian Liem (2013) sebesar 89,33–90,05%. Abbas (2006) menyatakan perbedaan kadar air dalam suatu bahan ditentukan oleh kondisi lingkungan penimpanan, suhu dan kelembaban (RH).
Tabel 4. Komposisi kimia rumput laut P. australis dan E. cottonii






Kadar abu P. australis yang diperoleh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Santoso et al. (2013), yaitu 2,11%. Kadar abu E. cottonii yang diperoleh 5,62%, lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Liem (2013) yaitu 17,69–19,70%. Perbedaan kadar abu yang diperoleh diantaranya dipengaruhi oleh kandungan mineral yang terdapat pada sampel tersebut. Ratana-arporn & Chirapart (2006) menyatakan tinggi rendahnya kadar abu yang terkandung dalam suatu bahan dapat dihubungkan dengan unsur mineral. Santoso et al. (2006) menyatakan bahwa P. australis mengandung mineral yang terdiri dari kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), natrium (Na), tembaga (Cu), seng (Zn), dan besi (Fe).
Kadar protein dan kadar lemak P. australis yang diperoleh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Santoso et al. (2013) yaitu 1,02% dan 0,40%. Kadar protein E. cottonii lebih rendah dibandingkan dengan Daud (2013) yaitu 2,46 – 3,29%, sedangkan kadar lemak E. cottonii yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan Liem (2013) 0,53 – 1,35%. Kadar protein dan lemak yang berbeda di antaranya dapat disebabkan oleh perbedaan umur panen dan kondisi cuaca pada saat pemeliharaan. Kadar protein dan lemak K. alvarezii bervariasi berdasarkan masa tanam yang berbeda (Daud 2013).
ü  Rendemen Ekstrak P. australis dan E. cottonii
Rendemen P. australis menggunakan pelarut methanol 4,55%; etil asetat 0,8%; dan n-heksan 0,45%, sedangkan rendemen E. cottonii menggunakan pelarut methanol 6,6%; etil asetat 0,5%; dan n-heksan 0,35%. Rendemen terbanyak diperoleh dari proses ekstraksi dengan menggunakan metanol, baik pada P. australis maupun E. cottonii, dan mengandung senyawa bioaktif yang larut dalam pelarut polar. Podungge (2012) menyatakan proses ekstraksi P. australis dengan pelarut berbeda yang dilakukan menghasilkan rendemen terbanyak pada ekstrak dengan pelarut polar.
Tatiya et al. (2011) menyatakan ekstrak tumbuhan mengandung kelas senyawa fenolik yang berbeda, serta memiliki perbedaan tingkat kelarutan pada pelarut yang berbeda. Senyawa fenolik tumbuhan umumnya berhubungan dengan molekul lain seperti protein, polisakarida, terpen, klorofil dan bahan inorganik lainnya, sehingga diperlukan pelarut yang sesuai untuk ekstraksi senyawa fenolik dari molekul tersebut.
ü  Kandungan Senyawa Bioaktif P. australis dan E. cottonii
Analisis fitokimia merupakan pengujian yang digunakan untuk memberikan informasi jenis senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan serta dapat memberikan efek fisiologis. Informasi mengenai komponen aktif sangat berguna untuk memprediksi manfaatnya bagi tubuh manusia (Copriyadi et al. 2005). Analisis fitokimia dilakukan untuk menentukan senyawa bioaktif yang berperan sebagai senyawa tabir surya. Analisis fitokimia yang dilakukan antara lain, flavonoid, fenol hidrokuinon, triterpenoid, tanin dan saponin. Hasil analisis senyawa fitokimia ekstrak P. australis dan E. cottonii terdapat pada Tabel 5.
Hasil analisis fitokimia secara kualitatif, maka dapat diketahui bahwa ekstrak P. australis dan E. cottonii mengandung komponen aktif antara lain flavonoid, fenol hidrokuinon dan triterpenoid yang diduga berperan sebagai zat potensial untuk bahan baku krim tabir surya. Ekstrak P. australis mengandung tanin yang juga merupakan zat potensial untuk bahan baku krim tabir surya. Ekstrak P. australis mengandung alkaloid, flavonoid, triterpenoid, saponin, fenol hidrokuinon, dan tanin (Haryani et al. 2014).
Tabel 5. Senyawa fitokimia ekstrak P. australis dan E. cottonii





Flavonoid merupakan salah satu polifenol, memiliki peran besar dalam aktivitas tirosinase karena mengandung gugus fenol dan cincin pyren. Struktur dari flavonoid secara prinsip sesuai sebagai substra tdan mampu berkompetisi sehingga dapat menjadi penghambat tirosinase (Chang 2009). Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai astringen, antidiare, antibakteri dan juga antioksidan. Tanin juga diketahui dapat melindungi kerusakan terhadap radikal bebas yang disebabkan oleh sinar UV (Desmiaty et al. 2008; Svobodová 2003).
ü  Kadar Vitamin E Ekstrak P. australis dan E. cottonii
Vitamin dibagi menjadi larut lemak dan larut air berdasarkan sifat kelarutannya. Vitamin E merupakan nutrisi esensial yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh manusia (Sesso et al. 2008). Vitamin E (α-tokoferol) telah banyak digunakan sebagai antioksidan dalam sediaan kosmetik karena mencegah proses penuaan, pemeliharaan dan perlindungan proses biologis normal seperti sebagai anti inflamasi. Vitamin E merupakan nutrisi esensial yang berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh manusia (Almatsier 2003).
Penetapan kadar vitamin E P. australis dan E. cottonii dilakukan dengan menggunakan sistem HPLC. Kadar vitamin E yang didapatkan dari sampel P. australis yaitu 162,75 μg/mL dan pada E. cottonii 158,07 μg/ mL. Kadar vitamin E E. cottonii yang diperoleh Nurjanah et al. (2015) 160,01 μg/mL. Soo-Jin et al. (2005) menyatakan rumput laut juga bisa digunakan sebagai sumber vitamin C yang sangat bermanfaat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh dan juga berperan sebagai antioksidan dalam penangkapan radikal bebas dan regenerasi vitamin E.



ü  Aktivitas Antioksidan P. australis dan E. cottonii
Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil) yang akan bereaksi dengan senyawa radikal bebas. Reaksi yang terjadi ditunjukkan dengan perubahan warna dari ungu menjadi kuning. Chang et al. (2007) menyatakan DPPH (diphenylpicrylhydrazyl) adalah suatu radikal bebas yang dapat bereaksi dengan senyawa radikal lain membentuk senyawa yang lebih stabil. Reaksi tersebut ditandai dengan terjadinya perubahan warna ungu menjadi kuning yang terdeteksi pada panjang gelombang 517 nm.
Nilai aktivitas antioksidan (IC50) ekstrak P. australis dan E. cottonii masing-masing sebesar 87,082 ppmdan 106,021 ppm. Aktivitas antioksidan P. australis yang diekstrak dengan pelarut berbeda, hasil tertinggi diperoleh pada ekstrak metanol, yaitu sebesar 267,1 ppm (Susanto et al. 2013). Aktivitas antioksidan E. cottonii yang diperoleh Suryaningrum et al. (2006) dengan pelarut methanol pada sampel segar dan sampel kering sebesar 45,60 ppm dan 64,80 ppm. Nilai aktivitas antioksidan yang dihasilkan dari ekstrak P. australis dan E. cottonii dapat dinyatakan aktif sebagai antioksidan. Molyneux (2004) juga menyatakan bahwa senyawa yang disebut aktif sebagai antioksidan apabila nilai IC50 kurang dari 200 μg/mL. Nilai IC50 yang diperoleh berkisar antara 200-1000 μg/mL, maka zat tersebut kurang aktif namun masih berpotensi sebagai zat antioksidan.





III.   PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode ekstraksi yang dilakukan pada makroalga atau rumput laut menggunakan pelarut polar (metanol), semi polar (etil asetat) dan non polar (n-heksana) dengan hasil berupa bioaktif dan senyawa hasil ektraksi lebih dominan pada antioksidan yang berfungsi menghalangi paparan radikal bebas, produk akhir hasil ektraksi berupa produk farmaseutikal dan nutraseutikal yang sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari.
B.     Saran
Saran yang dapat kami berikan adalah suatu saran yang kami berharap dapat membangun dari segi aspek pendidikan, seperti pemahaman mengenai mata kuliah farmaseutikal dan nutraseutikal yang khusunya berasal dari makroalga atau rumput laut yang masih minim diketahui oleh masyarakat. Makalah ini disusun agar pembaca dapat menarik ilmu yang bermanfaat serta kelak berguna pada penerapan kehidupan sehari-hari.



DAFTAR PUSTAKA
Alabi DA, Akinsulire OR, Sanyaolu MA. 2005. Qualitative determination of chemical and nutritional compotition of Parkia Biglobosa (Jacq) Benth. Afr J Biotechnol 4:812-815.

AOAC. 1995. Official Methods of Analysis. Association of Official. Washington DC: Agricultural Chemists.

Apak R et al. 2007. Comparative evaluation of various total antioxidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay. Molecules 12:1496-1547.

Basir A., Kustiariyah T., dan Desniar, 2017. Aktivitas Antibakteri dan Antioksidan Alga Hijau Halimeda gracilis dari Kabupaten Kepulauan Seribu. JPHPI. 20(2):211-218.

Cos P et al. 2001. Structure-activity relationship and clasification of flavonoids as inhibitors of xanthin oxidase and superoxide scavengers. J. Nat. Prod. 61: 71-76.

Duenas M, Manzano SO, Paramas AG,Buelga SC. 2009, Antioxidant evaluation of O-methylated metabolites of catechins, epicatechin, and quersetin. J. Pharm Bio Anal.

Dolorosa M. T., Nurjanah, Sri P., Effionora A., dan Taufik H., 2017.  Kandungan Senyawa Bioaktif Bubur Rumput Laut  Sargassum plagyophyllum dan  Eucheuma cottonii Sebagai Bahan Baku Krim Pencerah Kulit. JPHPI. 20(3):633-644.

Gazali M., Neviaty P. Z., Nurjanah, Zulfadhli dan Eri S., 2017. Eksplorasi Potensi Senyawa Bioaktif Makroalga Laut Sargassum sp. Asal Pesisir Aceh Barat Sebagai Agen Antioksidan. Journal of Aceh Aquatic Science. 1(1):43-52

Hanani. E, Abdul. M, dan Ryany. S,. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksidan Dalam Spons Callyspongia sp Dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. II (3): 127 – 133.

Harlis. 2011. Uji aktivitas antibakteri ekstrak patikan kerbau (Euphorbia hirta L.) terhadap pertumbuhan E.coli. Biochemical 13(1): 43-48

Lobban, C.S. and Wynne, M.J. 1981. The Biology of Seaweed. Vol. 1. University of California Press. Barkeley and Los Angeles.

Maharany F., Nurjanah, Ruddy S., Effionora A., dan Taufik H., 2017.  Kandungan Senyawa Bioaktif Rumput Laut Padina australis dan Eucheuma cottonii Sebagai Bahan Baku Krim Tabir Surya. JPHPI. 20(1):10-17.

Suhartono E, Fujiati, Aflanie I. 2002. Oxygen toxicity by radiation and effect of glutamic piruvat transamine (GPT) activity rat plasma after vitamine C treadment. International seminar on Environmental Chemistry and Toxicology. Yogyakarta.

Sze, P. 1993. A Biology of the Algae. Wm. C. Brown Publishers. 258 hal.


--- Terima Kasih Karena Sudah Mau Mengklick Halaman Ini,
Mohon Maaf Apabila Ada Hal Yang Anda Cari Tidak Ditemukan ---
-- Terima Kasih --
-- Thank You --
-- Syuqron --
-- Arigato --

Komentar